Filsafat, Determinisme, dan Mekanika Kuantum

Sains telah berkontribusi dalam pengetahuan dasar manusia dan menghasilkan penemuan-penemuan yang memengaruhi berbagai bidang akademik. Penemuan mekanika kuantum pada abad ke-20, salah satunya, memiliki pengaruh jelas pada pemahaman fundamental kita mengenai kenyataan, dan juga pada bidang filsafat. Hal yang dipertaruhkan adalah pertanyaan filosofis yang telah diperdebatkan selama berabad-abad: Apakah masa depan sudah ditentukan?

Pemikiran bahwa masa depan sudah ditentukan disebut determinismeDalam pandangan ini, peristiwa-peristiwa di masa depan disebabkan oleh peristiwa di masa sekarang yang pada gilirannya disebabkan oleh peristiwa di masa lalu. Dengan demikian, seluruh sejarah sederhananya merupakan satu rantai panjang sebab-akibat, dengan setiap kejadian disebabkan oleh kejadian sebelumnya.

 

Sebelum penemuan mekanika kuantum, kasus determinisme terlihat kuat. Hukum Newton tentang gerak menjelaskan bahwa jalur masa depan untuk sebuah partikel didasarkan pada posisi dan velositas (seberapa cepat dan ke arah mana ia menuju) saat itu. Kita semua memahami hukum Newton karena kita sudah pernah melihat benda-benda seperti bola bisbol atau bola biliar yang berlaku berdasarkan hukum tersebut.

Sebagai contohnya, seorang outfielder (penjaga sisi luar lapangan dalam olah raga bisbol) dapat memprediksi di mana suatu bola bisbol akan mendarat dengan mengamati posisi dan kecepatannya saat itu. Sang outfielder memprediksi jalur yang akan datang pada bola berdasarkan pada jalur sekarang ini–inilah yang disebut determinisme.

 

Penemuan mekanika kuantum menantang pemikiran bahwa alam kita bersikap secara deterministik. Elektron dan semua partikel-partikel kecil lainnya seperti proton dan neutron tidak terlihat berlaku deterministik. Seorang outfielder yang mengejar elektron tidak dapat memprediksi dimana elektron tersebut akan mendarat. Dunia subatomik tidak dapat ditentukan–masa sekarang tidak menentukan masa depan. Ini merupakan pemikiran baru.

Bagi beberapa orang, alam semesta yang tak tentu merupakan sesuatu yang mengancam. Bagi yang lainnya, pemikiran bahwa masa depan tidak terpredeterminasi–setidaknya untuk partikel-partikel subatomik–muncul sebagai kejutan yang menyenangkan. Dalam filsafat, perdebatan ini terus berlanjut. Akan tetapi, sifat indeterminate dunia subatomik berurusan dengan pemikiran bahwa semua kejadian di alam semesta ini ditentukan oleh kejadian sebelumnya.

 

Sumber: Tro, NJ, 2016. Chemistry In Focus: A Molecular View of Our World, 6th Edition. Boston (USA): Cengage Learning.

Comments are closed.